Rabu, 13 Juni 2012

Askep Dengan Septum Nasi, Hematoma Septum, Abses Septum


Askep Dengan Septum Nasi, Hematoma Septum, Abses Septum
 
BAB II
LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN
DEVIASI SEPTUM NASAL

2.1  Konsep Dasar
2.1.1    Pengertian
Dikatakan septum deviasi jika terdapat penyimpangan dari media spenoidalis oleh adanya perubahan struktur mukosa tulang rawan.
Septum deviasi dikatakan juga hidung bengkok karena adanya penyimpangan garis tengah disertai obstruksi Nasi yang idiopatik.
Gejala abses septum nasi adalah hidung tersumbat progresif yang ditandai dengan rasa nyeri berat, terutama terasa dipuncak hidung juga terdapat keluhan demam dan sakit kepala.
Abses septum nasi dapat juga menyebabkan komplikasi seperti infeksi ke intrakranial,  trombosis sinus cavernosus, sehingga setiap kasus septum nasi dianggap sebagai kasus darurat yang memerlukan penaganan yang tepat dan segera.

2.1.2    Etiologi
Trauma abses septum dapat terjadi secara baik langsung maupun tidak langsung.
Trauma langsung bila terjadi cidera pada wajah ( hidung), sedangkan trauma tidak langsung yang biasa terjadi pada saat bayi yaitu mukosa tulang rawan palatum yang tidak terdeteksi dini.

2.1.3    Patofisiologi
Trauma yang terus menerus pada tulang rawan hidung secara langsung atau pun tidak langsung menyebabkan perubahan dan  pertumbuhan struktur mukosa tulang rawan sehingga drainage dari sekret terganggu  dan hal inilah yang membuat hidung bebrau  dan dirasa buntu.

1.1.4        Manifestasi Klinis
1.1.4.1  Obstruksi pada Hidung
1.1.4.2  Rasa nyeri pada kepala dan disekitar mata
1.1.4.3  Gangguan indra penciuman

2.1.5    Pemeriksaan Diagnostik
2.1.5.1  Radiologi
1)      Foto waters adanya kelainan tulang hidung
2)      Pemeriksaan laboratorium meliputi : Darah lengkap, Faal hemostasis.

2.1.6    Penatalaksanaan Medis
2.1.6.1 Konservatif (Obatdekongestan)
2.1.6.2 Operatif

2.2  Manajemen Keperawatan
2.2.1        Pengkajian
2.2.1.1  Pengkajian.
1)      Ciri – CiriUmum (berisi identitas pasien).
2)      Riwayatkeperawatan
a. KeluhanUtama
Tidakdapatbernafasmelaluihidung, adasesuatu yang mengganjal.
b. RiwayatPenyakitsekarang.
Adanya keluhan tidak dapat bernafas melalui hidung, hidung terasa nyeri, tidak dapat makan karena takut tersedak.
c. Riwayat penyakit dahulu
Pilek terus menerus, biasanya lebih dari satu tahun dan tidak ada perubahan meskipun diberi obat.

3)      Pemeriksaan Fisik.
Hidung: Ada luka operasi, terdapat tampon + 1,5 mm yang tampak dari luar, pernapasan pindah ke mulut.

2.2.2        Diagnosa
2.2.2.1  Perubahan Pola Nafas berhubungan dengan Tampon Pada Hidung.
2.2.2.2  Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan luka operasi.

2.2.3        Intervensi
2.2.3.1  Perubahan pola nafas sehubungan dengan tampon pada hidung.
Tujuan: Perubahan pola nafas teratasi dalam 2x24 jam.
Kriteria hasil : Tampon di lepas,Klien dapat bernafas melalui hidung.
Intervensi
Rasional
Jelaskan tentang perubahan pola nafas dan bernafas melalui mulut.
Klien / keluarga mengerti sebab akibat perubahan pola nafas.
Anjurkan klien untuk tidur ½ duduk (semi fowler) dan nafas melalui mulut.
Membuat paru mengembang dengan baik
Beri tindakan perawatan untuk : Oral hygiene, Rawatlukadengan BWC dan H2O2 dan xylocain/LA Nebulizer tanpa obat.
Memberi rasa nyaman dan mencegah infeksi.
Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian kalmethason dan bronchodilator.
Fungsi interdependent untuk mengencerkan sekret dan melonggarkan pernafasan.
Monitor vital sign.
Mengetahui kelainan dini.

2.2.1.1  Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan luka operasi.
Tujuan: Nyeri berkurang dalam 2 x 24 jam.
Kriteriahasil: Klien bisa tidur.
    Klien merasa tenang, T 110/80 mmHg, N 88 x/menit.

Intervensi
Rasional
Kaji faktor – faktor yang mempengaruhi nyeri, misal takut / posisi yang salah.
Ketakutan / posisi salah dapat meningkatkan respon nyeri.
Kaji tingkat nyeri / lokasi nyeri / intensitas nyeri.
Menentukan tindakan keperawatan dalam hal untuk penanganan nyeri
Anjurkan klien untuk menggunakan teknik :distraksi, relaksasi progresif, cutaneus stimulation.
Mengurangi nyeri
Monitor vital sign.
Mengetahui kelainan dini terhadap respon nyeri

2.2.4        Implementasi
Implementasi adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana perawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan dengan tujuan agar terpenuhnya kebutuhan klien secara optimal.

2.2.5        Evaluasi
Evaluasi dilakukan dengan mengacu pada tujuan dan kriteria yang telah ditetapkan dalam perencanaan. 
BAB III
LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN
HEMATOMA SEPTUM DAN ABSES SEPTUM

3.1   Konsep Dasar
3.1.1        Pengertian
Hematoma septum merupakan sebagai akibat trauma pembuluh darah akan pecah dan darah akan berkumpul diantara perikondium dan tulang rawan septum, dan membentuk hematoma pada septum.

3.1.2        Etiologi
Terjadinya abses septum nasi paling sering ditemukan akibat trauma pada hidung. Keadaan ini dapat terjadi akibat kecelakaan, perkelahian maupun olahraga. Selain trauma, abses septum nasi juga dapat terjadi akibat komplikasi dari operasi hidung. Trauma dapat mengakibatkan luka pada mukosa septum sehingga dapat menyebabkan hematom septum nasi. Tiga sampai lima hari setelah terjadi hematom, hematom septum nasi mengalami infeksi sekunder sehingga terjadi abses septum nasi.

3.1.3        Manifestai klinis
3.1.3.1           Gejala hematoma septum biasanya bengkak unilateral / biaeral pada septum bagian depan, berbentuk bulat, licin dan berwarna merah.
3.1.3.2           Gejala abses septum nasi adalah hidung tersumbat progresif disertai dengan rasa nyeri hebat, terutama terasa di puncak hidung. Juga tedapat keluhan demam dan sakit kepala.
 
3.1.4        Pemeriksaan Diagnostik
3.1.4.1      Inspeksi
Tampak hidung bagian luar ( apex nasi) yang hiperemi, oedem, dan kulit mengkilat.
3.1.4.2      Palpasi
Didapatkan nyeri pada sentuhan
3.1.4.3      Rhinoskopi anterior
Tampak tumor pada septum nasi berwarna merah keabu-abuan, pada sentuhan terasa lunak dengan pemberian kapas yang dibasahi dengan solutio tetrakain efedrin 1% tidak mengempis.
3.1.4.4      Pungsi dan aspirasi
Tindakan ini berguna untuk membantu menegakkan diagnosis, pemeriksaan kultur, selain itu juga dapat mengurangi tekanan dalam abses dan mencegah terjadinya infeksi intrakranial.

3.1.5        Penatalaksanaan Medis
3.1.5.1           Dipasang tampon
3.1.5.2           Pemberian antibiotik
3.1.5.3           Incisi

3.2    Manajemen Keperawatan
3.2.1        Pengkajian
3.2.1.1      Kaji tanda tanda vital
3.2.1.2      Kaji pola nafas
3.2.1.3      Kaji adanya nyeri
3.2.1.4      Kaji warna kulit dan adanya sianosis

3.2.2        Diagnosa
3.2.2.1      Nyeri akut berhubungan dengan adanya luka pada hidung.

3.2.3        Intervensi
3.2.3.1      Nyeri akut berhubungan dengan adanya luka pada hidung.
Tujuan: Setelah dilakukan intervensi selama 3x24 jam diharapkan nyeriberkurang.
Kriteria Hasil: TTV dalam batas stabil
                        Nyeri berkurang
                        Klien tampak tenang

Intervensi
Rasional
Kaji skala nyeri 0-10.
Mengetahui skala nyeri dan kebutuhan
Observasi tanda-tanda vital.

Hipertensi akibat respon dari nyeri dan hipotensi maupun takikardi akibat dari kehilangan darah.
Pertahankan immobilisasi bagian yang sakit dengan tirah  baring dan pemasangan spalk/ bidai.
Meminimalkan nyeri dan mengurangi cidera.
Anjurkan klien rileks dan menarik nafas panjang bila nyeri datang.
Mengalihkan rasa nyeri dan mengurangi ketegangan.
Lakukan kompres dingin selama 24-48 jam pertama.
Mengurangi edema
Observasi kualitas nadi perifer antar yang sakit dan yang sehat.
Mengetahui adanya cedera vascular
Kaji aliran kapiler, warna kulit, sianosis dan kehangatan distal.
Mengetahui gangguan arteri dan vena.

3.2.4        Implementasi
Implementasi adalah pengelolaan danperwujudan dari rencana perawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan dengan tujuan agar terpenuhnya kebutuhan klien secara optimal.

3.2.5        Evaluasi
Evaluasi dilakukan dengan mengacu pada tujuan dan kriteria yang telah ditetapkan dalam perencanaan.



DAFTAR PUSTAKA



  • Ballenger JJ. Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala dan leher. Edisi 13. Jakarta. Binarupa Aksara1994 : 108 – 109.

  • Soepardi, H. Efiaty Arsyad, dr.Sp.THT. BUKU AJAR ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK KEPALA LEHER. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta,1990: 51 - 54.

  • Kryger H, Dommesty H, Haematoma and abeess of the nasal septum. Clin Otolaryngol 1987;12: 125 – 29.

  • Broek Den Van P. 2009. BUKU SAKU ILMU KESEHATAN TENGGOROK, HIDUNG, DAN TELINGA. Jakarta : EGC




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar